Kegiatan Bimbingan Teknis di Desa Kore, Sandue, dan Boro yag berada di Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima

Direktorat Pengembangan Daerah Rawan Pangan, Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi bekerjasama dengan Fakultas Peternakan bekerja melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) bagi petani, peternak, penyuluh lapangan, warga, serta aparat desa di 3 desa yaitu Desa Kore, Sandue, dan Boro yang berada di Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Minggu pada tanggal 15 November 2015.

Menurut Direktur Pusat Kajian Pembangunan Peternakan Nasional Fapet UGM, Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai langkah awal memberikan informasi kegiatan penanganan rawan pangan yang telah didahului dengan menerjunkan tim pendamping yang bertugas mendampingi, verifikasi dan mengumpulkan data lapangan dala kegiatan Pengentasan Rawan pangandi kabupaten Bima. Tim Pendamping beranggotakan 2 orang sarjana muda Peternakan yaitu Mardiyansyah, S.Pt. dan Damar Hidayat, S.Pt.

Ibu Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D, selaku koordinator lokasi penanganan daerah rawan pangan di Kabupaten Bima menghaturkan bahwa kegiatan BIMTEK di Kabupaten Bima mengandung unsur pelatihan pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak,pelatihan terkait pertanian terpadu, serta diversifikasi hasil pertanian dan perikanan dengan pengolahan. Pengolahan limbah pertanian sebagai pakan dilakukan dengan harapan potensi peternakan di Kabupaten Bima meningkat dengan hadirnya teknologi tersebut, sehubungan dengan akan datangnya bantuan pembangunan kandang untuk pemeliharaan ternak semi intensif. Materi bimbingan teknis selain peternakan disampaikan terkait penyuluhan oleh Dr. Sri Rahajoe, STP, M.P dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, tentang penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pentingnya usaha pengelolaan jasa alsintan yang diperlukan untuk mengelola peralatan yang akan dibantukan dari program penanganan rawan panganMenurut beliau, Kecamatan Sanggar sangat melimpah dalam jumlah jerami dan limbah jagung yang selama ini hanya dibuang dan dibakar, sehingga dengan adanya pelatihan pemanfaatan limbah pertanian ini diharapkan produktivitas ternak meningkat. Paradigma peternak akan mulai terbuka bahwasanya ternak Sapi Bali yang semula hanya diumbar di area hutan karena lahan untuk Sapi Bali menyempit akibat penamanaman jagung, maka akan mulai di kandangkan untuk memanagemen pengambilan feses ternak untuk di olah menjadi pupuk organik sebagai pupuk tanaman pangan seperti jagung. Tidak hanya limbah ternak saja, limbah pertanian jagung dapat dijadikan pakan alternatif. Sehingga dalam bimbingan teknis perlu diperkenalkan penggunaan teknologi pra digesti dengan penggunaan Saus Burger Pakan yang merupakan produk penelitian Prof. Ali Agus, Dekan Fakultas Peternakan Antusiasme para peternak, petani dan peserta bimbingan teknis sangat besar. Mereka sangat mudah menerima teknologi yang para narasumber berikan seperti pengolahan limbah jagung disertai praktik langsung pembuatan pakan pra digesti dengan bahan sesuai potensi lokal di Bima yaitu jerami jagung, jerami, kacang tanah, kedelai dan dedak. Peserta bimbingan teknis juga disuguhkan video terkait manajemen pakan sapi berbasis pakan limbah pertanian yang diharapkan nantinya dapat memberikan gambaran peternakan terpadu yang memanfaatkan potensi sekitar. Kesadaran terkait mengenai pentingnya pakan untuk peningkatan produktivitas ternak Sapi Bali di Kecamatan Sanggar serta tersedianya limbah pertanian sebagai pakan sepanjang tahun sehingga tujuan pengentasan kawasan rawan pangan menuju tangguh pangan dapat terwujud.

Tulisan ini dipublikasikan di Kegiatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *